Kesabaran Dalam Sebuah Penantian Seorang Sahabat Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu

Kaab bin malik

Sebuah kisah yang menggugah jiwa dan mengharukan. Bercerita tentang perjuangan seorang shahabat nabi Shalallohu’alahi wasallam dalam menghadapi ujian yang begitu berat. Dengan penuh kesabaran, hatinya tetap kokoh dalam penantian. Walau dalam kesendirian, ia tidak takut. Sebab ia tahu bahwa kesalahan yang ia perbuat mesti dipertanggungjawabkan. Ia bangkit dari kesalahannya dengan terus memohon dan bertaubat, menanti ampunan dari Allah Subhanahuwata’ala. Ia yakin bahwa Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap permasalahannya. 

       

Kisah beliau sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran. Ya, kisah ini datang dari seorang shahabat Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu. Seorang penyair andalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang dikenal sebagai mujahid yang tidak pernah tertinggal dalam setiap peperangan selama hidupnya melainkan satu peperangan saja, yakni perang tabuk.

       

Ketika rombongan kaum muslimin bersama rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tengah mempersiapkan bekal menuju tabuk, Ka'ab dan beberapa sahabat yang lain terlihat santai dan menunda-nunda waktu untuk mempersiapkan perbekalan. Hingga mereka pun tertinggal oleh rombongan. Ka'ab yang mengetahui keberangkatan Rasulullah dan kaum muslimin pun segera mempersiapkan bekalnya dan berniat menyusul mereka. Namun, takdir Allah berkata lain. Ia ditimpa perasaan sedih, gelisah dan rasa takut yang luar biasa. Setiap kali ia keluar rumah, jalanan terlihat sepi, hanya ada beberapa orang saja yang melintas.

       

Ketika rombongan kaum muslimin telah tiba di Tabuk, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sempat menanyakan keberadaan Ka'ab, namun tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Kemudian setelah beberapa lama, terdengarlah berita bahwa Rasulullah dan rombongan kaum muslimin akan segera kembali ke kota Madinah. Rasa takut, gelisah dan cemas yang Ka'ab rasakan mulai bertambah. Ia memikirkan berbagai alasan dan udzur yang nanti akan disampaikannya kepada Rasul, namun tak sepatah kata pun yang ia temukan untuk menjadikannya alasan. Hatinya dihantui rasa takut akan kemarahan Rasul kepadanya. Hingga akhirnya ia pun mengambil keputusan untuk berkata jujur terhadap kelalaiannya.

       

Tibalah rombongan kaum muslimin di kota Madinah. Ketika itu Rasulullah shallalhu 'alaihi wasallam pergi menuju masjid untuk menunaikan sholat sunnah 2 rakaat. Setelah beliau mengerjakan salat sunnah, mulailah berdatangan orang-orang yang tidak ikut dalam peperangan untuk menyampaikan udzurnya. Beliau menerima udzur mereka dan memaafkannya. Beliau serahkan urusan hati mereka hanya kepada Allah. Sebab, hanya Allah lah yang mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada mereka. Kini giliran Ka'ab menghadap Rasul. Ia tepis rasa takut dan gelisah tersebut di hadapan beliau. Rasul pun bertanya kepadanya :

“Wahai Ka'ab, apa yang membuatmu tertinggal dari rombongan sementara engkau sudah membeli kendaraan untuk mengikuti peperangan ini? Maka Ka'ab menjawab dengan jujur: “Demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak memiliki alasan atas tindakanku meninggalkan peperangan. Tidaklah aku tertinggal dari rombongan saat itu melainkan dalam kondisi paling kuat dan paling cukup perbekalan.”

       

Maka rasul menoleh ke arah Ka'ab dan memerintahkannya untuk bangkit dan pergi hingga Allah memutuskan perkaranya. Ka'ab pun bangkit dan pergi meninggalkan masjid dengan perasaan sedih.

       

Mulailah orang-orang menjauhi dan mendiami Ka'ab dan kedua orang temannya yang juga berkata jujur sepertinya. Keduanya adalah Murarah bin Rabi' dan Hilal bin Umayyah radhiyallahu 'anhum. Selama lima puluh malam Ka'ab dan kedua orang temannya diboikot oleh Rasulullah dan shahabat lainnya termasuk istrinya juga tidak diperkenankan mendekatinya dan mengajaknya berbicara. Sehingga Ka'ab pun mentaati perintah Rasul dengan memulangkan istrinya kepada kedua orang tuanya untuk sementara waktu. Begitu juga dengan sepupunya yakni Abu Qatadah, ia tidak pernah lagi menjawab salam dari Ka'ab dan tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Dunia terasa begitu sesak dan sempit bagi Ka'ab. Dia harus menerima konsekuensi dari kejujurannya tersebut. 

       

Berbagai ujian menghampiri Ka'ab di tengah-tengah pemboikotannya. Suatu hari datanglah seseorang menemuinya untuk menyampaikan sepucuk surat dari Raja Ghassan yang menawarkan untuk bergabung dengan ajakannya. Akan tetapi Ka'ab sama sekali tidak tergoda dengan ajakan tersebut, hingga ia melempar surat itu ke dalam tungku pemanggangan roti.

       

Hari-hari dilalui dengan kesendirian dan kesedihan, Ka'ab merasakan kesempitan pada dirinya sendiri. Namun ia tetap bersabar menanti ampunan dari Allah. Dan tibalah malam ke lima puluh, pada pagi hari dari malam kelima puluh tersebut Ka'ab berangkat ke masjid untuk menunaikan salat subuh. Setelah ia pulang, ia duduk di atas loteng rumahnya. Tiba-tiba terdengar seruan dengan suara yang sangat keras dari atas gunung Sal' menyeru : “Bergembiralah wahai Ka'ab bin Malik..”

       

Ka'ab yang mendengar seruan tersebut tersungkur sujud. Ia yakin bahwa ini sebuah kabar gembira atas hukumannya. Dia pun keluar untuk menemui Rasulullah Shalallohu’alahi wasallam, dan begitu terharunya dia, ketika melihat orang-orang berhamburan menyalaminya dan mengucapkan selamat kepadanya. 

       

Sesampainya di masjid, ia masuk menemui Rasulullah Shalallohu’alahi wasallam dan mengucapkan salam kepada beliau. Tampak raut kebahagiaan terpancar dari wajah beliau. Rasul Shalallohu’alahi wasallam berkata : Bergembiralah dengan satu hari yang baru engkau temui sejak ibumu melahirkanmu. Ka'ab bertanya: Apakah berita ini datang dari Allah atau darimu wahai Rasulullah? Rasul menjawab: Bukan dariku. Akan tetapi dari Allah subhanahu wa ta'ala.

 

Ka'ab dan kedua temannya telah terlepas dari hukuman dengan diturunkannya sebuah ayat dari Al-Quran yaitu surah At-Taubah ayat 118. Sungguh Allah telah menerima taubat mereka radhiyallahu 'anhum. Ka'ab berkata : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku dengan kejujuran, maka termasuk dari taubatku adalah aku tidak akan berkata selain kejujuran selama hidupku."


Kini hukuman telah terlewati. Kesabaran atas penantian berujung dengan kebahagiaan. Ada banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari kisah taubat Ka'ab bin Malik dan kedua orang temannya. 


Maka mari berkaca dengan kisah beliau, bahwa sepahit dan sesulit apapun keadaan, tetaplah berkata jujur. Walaupun manusia akan membenci dan menjauhi, namun Allah tidak akan meninggalkan kita sendiri. Sebab, kejujuran adalah sifat yang mulia. Yang mana Allah akan memuliakan dan mengangkat derajat orang-orang yang senantiasa berkata jujur. Jika kita sadar telah melakukan sebuah kesalahan, maka beranilah untuk mengakuinya dan meminta maaf kepada orang yang telah dizalimi serta berusaha untuk menerima dan menanggung segala akibat dari kesalahan tersebut. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang jujur dalam berucap maupun berbuat, dan senantiasa membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus. Aamiin

Wallahul muwaffaq


Daftar pustaka :

*Buku Sirah Shahabat jilid 3 karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya

*Kitab Shohih Bukhori

*Kitab Shohih Muslim


Share artikel ini:

Posting Komentar

 
Copyright © Berlomba Dalam Kebaikan Islam dan Sunnah - Designed by OddThemes