Ibadah

Mar'ah Sholihah

Adab dan Akhlak

Artikel Terbaru

Kesabaran Dalam Sebuah Penantian Seorang Sahabat Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu

Maret 05, 2021
Kaab bin malik

Sebuah kisah yang menggugah jiwa dan mengharukan. Bercerita tentang perjuangan seorang shahabat nabi Shalallohu’alahi wasallam dalam menghadapi ujian yang begitu berat. Dengan penuh kesabaran, hatinya tetap kokoh dalam penantian. Walau dalam kesendirian, ia tidak takut. Sebab ia tahu bahwa kesalahan yang ia perbuat mesti dipertanggungjawabkan. Ia bangkit dari kesalahannya dengan terus memohon dan bertaubat, menanti ampunan dari Allah Subhanahuwata’ala. Ia yakin bahwa Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap permasalahannya. 

       

Kisah beliau sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran. Ya, kisah ini datang dari seorang shahabat Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu. Seorang penyair andalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang dikenal sebagai mujahid yang tidak pernah tertinggal dalam setiap peperangan selama hidupnya melainkan satu peperangan saja, yakni perang tabuk.

       

Ketika rombongan kaum muslimin bersama rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tengah mempersiapkan bekal menuju tabuk, Ka'ab dan beberapa sahabat yang lain terlihat santai dan menunda-nunda waktu untuk mempersiapkan perbekalan. Hingga mereka pun tertinggal oleh rombongan. Ka'ab yang mengetahui keberangkatan Rasulullah dan kaum muslimin pun segera mempersiapkan bekalnya dan berniat menyusul mereka. Namun, takdir Allah berkata lain. Ia ditimpa perasaan sedih, gelisah dan rasa takut yang luar biasa. Setiap kali ia keluar rumah, jalanan terlihat sepi, hanya ada beberapa orang saja yang melintas.

       

Ketika rombongan kaum muslimin telah tiba di Tabuk, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sempat menanyakan keberadaan Ka'ab, namun tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Kemudian setelah beberapa lama, terdengarlah berita bahwa Rasulullah dan rombongan kaum muslimin akan segera kembali ke kota Madinah. Rasa takut, gelisah dan cemas yang Ka'ab rasakan mulai bertambah. Ia memikirkan berbagai alasan dan udzur yang nanti akan disampaikannya kepada Rasul, namun tak sepatah kata pun yang ia temukan untuk menjadikannya alasan. Hatinya dihantui rasa takut akan kemarahan Rasul kepadanya. Hingga akhirnya ia pun mengambil keputusan untuk berkata jujur terhadap kelalaiannya.

       

Tibalah rombongan kaum muslimin di kota Madinah. Ketika itu Rasulullah shallalhu 'alaihi wasallam pergi menuju masjid untuk menunaikan sholat sunnah 2 rakaat. Setelah beliau mengerjakan salat sunnah, mulailah berdatangan orang-orang yang tidak ikut dalam peperangan untuk menyampaikan udzurnya. Beliau menerima udzur mereka dan memaafkannya. Beliau serahkan urusan hati mereka hanya kepada Allah. Sebab, hanya Allah lah yang mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada mereka. Kini giliran Ka'ab menghadap Rasul. Ia tepis rasa takut dan gelisah tersebut di hadapan beliau. Rasul pun bertanya kepadanya :

“Wahai Ka'ab, apa yang membuatmu tertinggal dari rombongan sementara engkau sudah membeli kendaraan untuk mengikuti peperangan ini? Maka Ka'ab menjawab dengan jujur: “Demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak memiliki alasan atas tindakanku meninggalkan peperangan. Tidaklah aku tertinggal dari rombongan saat itu melainkan dalam kondisi paling kuat dan paling cukup perbekalan.”

       

Maka rasul menoleh ke arah Ka'ab dan memerintahkannya untuk bangkit dan pergi hingga Allah memutuskan perkaranya. Ka'ab pun bangkit dan pergi meninggalkan masjid dengan perasaan sedih.

       

Mulailah orang-orang menjauhi dan mendiami Ka'ab dan kedua orang temannya yang juga berkata jujur sepertinya. Keduanya adalah Murarah bin Rabi' dan Hilal bin Umayyah radhiyallahu 'anhum. Selama lima puluh malam Ka'ab dan kedua orang temannya diboikot oleh Rasulullah dan shahabat lainnya termasuk istrinya juga tidak diperkenankan mendekatinya dan mengajaknya berbicara. Sehingga Ka'ab pun mentaati perintah Rasul dengan memulangkan istrinya kepada kedua orang tuanya untuk sementara waktu. Begitu juga dengan sepupunya yakni Abu Qatadah, ia tidak pernah lagi menjawab salam dari Ka'ab dan tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Dunia terasa begitu sesak dan sempit bagi Ka'ab. Dia harus menerima konsekuensi dari kejujurannya tersebut. 

       

Berbagai ujian menghampiri Ka'ab di tengah-tengah pemboikotannya. Suatu hari datanglah seseorang menemuinya untuk menyampaikan sepucuk surat dari Raja Ghassan yang menawarkan untuk bergabung dengan ajakannya. Akan tetapi Ka'ab sama sekali tidak tergoda dengan ajakan tersebut, hingga ia melempar surat itu ke dalam tungku pemanggangan roti.

       

Hari-hari dilalui dengan kesendirian dan kesedihan, Ka'ab merasakan kesempitan pada dirinya sendiri. Namun ia tetap bersabar menanti ampunan dari Allah. Dan tibalah malam ke lima puluh, pada pagi hari dari malam kelima puluh tersebut Ka'ab berangkat ke masjid untuk menunaikan salat subuh. Setelah ia pulang, ia duduk di atas loteng rumahnya. Tiba-tiba terdengar seruan dengan suara yang sangat keras dari atas gunung Sal' menyeru : “Bergembiralah wahai Ka'ab bin Malik..”

       

Ka'ab yang mendengar seruan tersebut tersungkur sujud. Ia yakin bahwa ini sebuah kabar gembira atas hukumannya. Dia pun keluar untuk menemui Rasulullah Shalallohu’alahi wasallam, dan begitu terharunya dia, ketika melihat orang-orang berhamburan menyalaminya dan mengucapkan selamat kepadanya. 

       

Sesampainya di masjid, ia masuk menemui Rasulullah Shalallohu’alahi wasallam dan mengucapkan salam kepada beliau. Tampak raut kebahagiaan terpancar dari wajah beliau. Rasul Shalallohu’alahi wasallam berkata : Bergembiralah dengan satu hari yang baru engkau temui sejak ibumu melahirkanmu. Ka'ab bertanya: Apakah berita ini datang dari Allah atau darimu wahai Rasulullah? Rasul menjawab: Bukan dariku. Akan tetapi dari Allah subhanahu wa ta'ala.

 

Ka'ab dan kedua temannya telah terlepas dari hukuman dengan diturunkannya sebuah ayat dari Al-Quran yaitu surah At-Taubah ayat 118. Sungguh Allah telah menerima taubat mereka radhiyallahu 'anhum. Ka'ab berkata : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku dengan kejujuran, maka termasuk dari taubatku adalah aku tidak akan berkata selain kejujuran selama hidupku."


Kini hukuman telah terlewati. Kesabaran atas penantian berujung dengan kebahagiaan. Ada banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari kisah taubat Ka'ab bin Malik dan kedua orang temannya. 


Maka mari berkaca dengan kisah beliau, bahwa sepahit dan sesulit apapun keadaan, tetaplah berkata jujur. Walaupun manusia akan membenci dan menjauhi, namun Allah tidak akan meninggalkan kita sendiri. Sebab, kejujuran adalah sifat yang mulia. Yang mana Allah akan memuliakan dan mengangkat derajat orang-orang yang senantiasa berkata jujur. Jika kita sadar telah melakukan sebuah kesalahan, maka beranilah untuk mengakuinya dan meminta maaf kepada orang yang telah dizalimi serta berusaha untuk menerima dan menanggung segala akibat dari kesalahan tersebut. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang jujur dalam berucap maupun berbuat, dan senantiasa membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus. Aamiin

Wallahul muwaffaq


Daftar pustaka :

*Buku Sirah Shahabat jilid 3 karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya

*Kitab Shohih Bukhori

*Kitab Shohih Muslim


Lagi Duduk-Duduk Di Pinggir Jalan? Ketahui Dulu Hak-Hak Jalan Yang Wajib Ditunaikan Berikut Ini

Juni 24, 2020

Tak jarang kita sering mendapati orang orang yang suka duduk-duduk di pinggiran jalan tanpa alasan yang jelas, baik itu yang dilakukan oleh anak-anak muda maupun orang-orang yang sudah berumur. Dan yang lebih menyedihkan lagi, tak jarang diantara mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang kurang pada tempatnya seperti mengeluarkan ucapan-ucapan yang bisa mengganggu perasaan orang-orang yang lewat.  Begitu juga dengan senda gurau mereka di jalan tersebut, bagaimanapun akan  membuat orang-orang jadi terganggu dan merasa risih mendengarnya. Belum lagi terkadang diiringi dengan perbuatan yang bukan lagi sekedar ucapan, tapi sudah menjurus ke tindakan tercela seperti melempar batu, petasan atau yang semisal dengannya. Tentu tidak sepantasnya itu terjadi yang merupakan adab tercela, apalagi kalau dilakukan oleh seorang muslim.

Ketika berada di jalanan yang dilalui juga oleh banyak orang, kita senantiasa harus memperhatikan adab-adabnya, karena Islam sudah mengajarkan akan adab di jalan tersebut. Kita tidak bisa seenaknya dan sesuka hati kita dalam berbuat di jalan umum, karna jalan itu memiliki hak-hak yang harus kita tunaikan bila kita kebetulan berada disana.
Sebagaimana Roshulullah Shallallahu 'alayhi wasallam telah menyebutkan dalam sebuah hadits tentang hak-hak di jalan .

عن أبي سعيد الخُدري رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :  إياكم والجلوس في الطرقات }}
فقالوا : يارسول الله مالنا من مجالسنا بدّ، نتحدّث فيها. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : {{ فإذا أبيتم إلاّ المجلس فأعطوا الطريق حقه ، قالوا : وما حقّ الطريق يا رسول الله ؟ قال : {{ غضّ البصر، وكفّ الأذى، وردّ السلام، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر }}
متفق عليه.

Dari Abi Sa'id Al-Khudriy Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shollallahu 'alayhi wasallam bersabda :
"Berhati-hatilah kalian dari suka duduk-duduk di pinggir jalan." Maka para Shohabat berkata : "Wahai Roshulullah, tidaklah kami duduk-duduk di pinggir jalan melainkan hanya sekedar untuk berbincang-bincang. Maka Roshulullah Shallallahu 'alayhi wasallam berkata : "Maka jika kalian enggan melainkan hanya untuk duduk-duduk saja disana, maka berikanlah haknya jalan tersebut." Para shohabat bertanya: Apa haknya wahai Roshulullah ? Roshulullah Shallallahu 'alayhi wasallam berkata : "Menundukkan pandangan, menahan gangguan, menjawab salam, serta memerintahkan yang ma'ruf dan melarang dari yang munkar." Muttafaqun 'alayhi.
( Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhoriy dalam shohih nya ).

Maka di dalam hadits ini Nabi Shallallahu 'alayhi wasallam memberi peringatan kepada kita bila sedang berada di pinggir jalan untuk melaksanakan hak-hak orang yang lewat di jalan tersebut. Karena hal ini akan membawa kita kepada perbuatan zalim dan tercela bila kita tidak menjaga mata dan adab kita seperti menundukkan mata dari melihat aurat-aurat manusia serta melihat laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya. Dan juga menjaga lisan-lisan kita dari perbincangan atau ucapan-ucapan yang melalaikan, diantaranya seperti ghibah, mencela, mengucapkan kata kata kotor atau yang semisalnya dari ucapan-ucapan yang tercela.

Oleh karena itu Nabi Shallallahu 'alayhi wasallam sungguh-sungguh memperingatkan kita dari perkara ini, dikarenakan banyaknya mafsadah ( kerusakan-kerusakan ) yang terdapat di dalamnya.
Namun jika memang tetap ingin untuk duduk-duduk di jalanan, maka wajib untuk memberikan hak-hak nya orang yang lewat di jalan tersebut sebagaimana yang telah disebutkan oleh Nabi Shallallahu 'alayhi wasallam  didalam hadits diatas.

Semoga artikel singkat ini bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi kita untuk bisa menunaikan apa yang diperintahkan oleh Rasululloh shalallahu ‘alaihi wasallam saat berada di jalan.
Wallahu a'lam bis showab.

(Sumber: Kitab Syarh Riyadhus Sholihin karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al-'Utsaimin Rahimahullah Ta'alaa Jilid 2 Hal. 441)

Ternyata Sifat Istri Sholihah itu Terdapat Di Dalam Ayat ini

Juli 14, 2019
Istri yang sholihah adalah dambaan setiap wanita muslimah, baik yang belum menikah, apalagi yang sudah bersuami. Dan ciri-ciri dari sifat wanita sholihah itu dijabarkan Alloh subhanahuwata'ala di dalam salah satu firman-Nya. Mau tahu di surat apa? Yah, benar... di surat At-Tahrim ayat ke 5. Begini bunyinya:

Allah ﷻ berfirman :

عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تآئِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سآئِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا .
( سورة التحريم : ٥ )

"Jika sampai Nabi menceraikan kalian, mudah-mudahan Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat, mukminat, qonitat, taaibat, ‘aabidat, saa-ihat dari kalangan janda ataupun gadis."
(Qs. At-Tahrim: 5)

Dalam ayat yang mulia diatas disebutkan dengan jelas beberapa sifat istri yang shalihah. Mari kita bahas satu per satu sebagai berikut:

1. Muslimat

Kata Muslimat disini bermakna wanita-wanita yang ikhlas kepada Allah ﷻ, tunduk kepada perintah Allah ﷻ dan perintah Rasul-Nyaﷺ .

2. Mukminat

Kata Mukminat disini bermakna wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah ﷻ .

3. Qonitat

Lalu apa makna dari kata "Qonitat"? Maknanya tidak lain adalah wanita-wanita yang taat.

4. Taaibat

Begitu juga dengan kata "Taa-ibat" yang bermakna wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah ﷺ walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi hawa nafsu mereka.

5. 'Aabidat

'Aabidat adalah wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah ﷻ dengan mentauhidkan-Nya karena semua yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah ﷻ di dalam Al-Qur’an adalah tauhid.

6. Saa-ihat

Dan yang terakhir adalah "Saa-ihat" yang bermakna wanita-wanita yang berpuasa.
(Sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an 18/126-127, Tafsir Ibnu Katsir 8/132)

Dengan penjabaran di dalam surat At-Tahrim ayat 5 ini menjadi jelaslah bagi kita akan sifat-sifat mulia yang diinginkan Alloh 'azzawajalla kepada kita kaum muslimah, agar kita berlomba-lomba dalam menanamkan sifat-sifat mulia ini ke dalam diri-diri kita.

Boleh Ngga Sih Memakai Celak Di Bulan Ramadhan?

Juli 14, 2019
Berhias bagi kita kaum wanita merupakah ibadah, selama hal itu dilakukan bukan untuk kemaksiatan dan bagi anti yang sudah berkeluarga tentunya untuk sang suami tercinta. Nah, salah satu aksesoris dalam berhias yang femilier bagi kita adalah celak. Siapa sih yang tidak kenal dengan alat kosmetik yang satu ini. Celak sering sekali kita gunakan, baik untuk alis maupun untuk memperindah mata kita. Namun bolehkan memakai celak di siang hai di bulan Ramadhan?

Untuk menjawab perkara ini, Asy-Syaikh Al-'Allamaah 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baaz rohimahulloh memberikan fatwanya akan pertanyaan ini.

Tanya:
“Apa hukum menggunakan celak di siang hari di bulan Ramadhan sebagian alat make-up bagi wanita? Apakah ini membatalkan puasa atau tidak?"

Jawaban :
Memakai celak di siang hari di bulan Ramadhan tidak lah membatalkan puasa wanita yang memakainya dan tidak pula bagi laki-laki sesuai pendapat yang paling benar dari dua pendapat ulama secara mutlak. Akan tetapi menggunakannya di malam hari itu lebih baik bagi orang yang berpuasa.

Demikian juga apa-apa yang biasa dijadikan sebagai menghias wajah dari sabun dan minyak wangi dan yang lainya yang berkaitan dengan kulit luar. Termasuk juga inai (pacar), make up dan yang serupa dengannya. Semuanya diperbolehkan bagi orang yang berpuasa. Namun tidak sepantasnya menggunakan make up apabila hal itu membahayakan (merusak) wajah.
Majmu' Al-Fataawa [15/259]

Bagaimanakah Posisi Shaf Wanita Saat Sholat Berjamaah?

Juli 14, 2019
Kita bersama sudah paham bahwa sholat merupakan rukun Islam yang kedua. Urutannya yang nomor dua setelah mengucapkan dua kalimat syahadat menunjukkan betapa pentingnya posisi sholat ini dalam kita berislam. Dan sholat adalah ibadah yang kita lakukan rutin setiap hari, kecuali bagi wanita disaat kita sedang haid dimana sholat tentu tidak diperbolehkan untuk melakukannya. Namun demikian, bagaimanapun kita harus berilmu tentang berbagai hukum sholat ini karena ini adalah bagian ibadah terpenting bagi kita sebagai seorang muslimah.

Pada artikel kali ini, kita akan membahas bagaimana sih posisi shaf wanita itu disaat sholat berjamaah? Apakah sama dengan safnya kaum pria? atau berbeda sama sekali.... Berikut pembahasannya.

Kita tahu, bahwa walaupun wanita lebih afdhol melakukan sholatnya di rumah, tapi tetap diperbolehkan melakukannya di masjid dengan berbagai syarat yang telah ditetapkan Rasululllah shalallohu'alaihi wasallam. Diantaranya adalah menjaga aurat, menjaga adab, terpisah letaknya dengan kaum laki-laki dan bukan dijadikan hal yang wajib untuk dilakukan terus-menerus sebagaimana halnya kaum laki-laki.

Nah, bila kita kaum wanita melakukan sholat berjama'ah, dari segi shaf maka posisi shaf yang paling baik adalah posisi yang paling belakang. Berbeda dengan shaf kaum laki-laki dimana kaum laki-laki shaf yang terbaiknya adalah yang paling depan dan berada di sebelah kanan. Hal ini berdasarkan dalil dari Nabi Shalallahu'alaihi wasallam yang dirawatkan oleh Muslim radhiallohuanhu:

خَيْرُ صُفُوفِ الِرجَالِ أَوِّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah shaf yang pertama dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf wanita adalah shaf yang terakhir dan seburuk-buruknya adalah yang pertama.” (HR. Muslim no.440).

Dari hadits ini sangat jelaslah bagaimana Rasulullah Shalallohu'alaihi wasallam dalam menetapkan posisi masing-masing shaf laki-laki dan wanita agar bisa kita pahami mana yang terbaik untuk diamalkan.
Semoga artikel sederhana ini bermanfaat.

Seruan Bagi Wanita Muslimah Untuk Berdakwah Di Tengah Kaumnya

Juli 14, 2019
Berdakwah kepada wanita muslimah tentulah sangat penting, apalagi di zaman yang penuh dengan kemaksiatan seperti sekarang ini. Namun demikian, dakwah yang dilakuan sangatlah lebih baik bila dilakukan oleh kita sesesama muslimah sendiri. Selain lebih dekat dan lebih mudah, juga hal-hal yang tabu untuk ditanyakan bisa lebih mudah pada perkara-perkara tertentu.

Hal ini sangat dianjurkan oleh Syaikh Muqbil dimana beliau rahimahulloh pernah berkata:

" نحن محتاجون إلى نساء صالحات يُقمن الدعوة في أوساط النساء.
فإنه دخل علينا شر مستطير بواسطة المرأة.
غرّها أعداء الإسلام و مناها أعداء الإسلام، وخدعوها حتى ربما أصبحت تحتقر الإسلام وتتبرأ من تعاليم الإسلام
.


"Kita butuh kepada para wanita yang sholihah untuk menegakkan dakwah di tengah-tengah kaumnya para wanita yang lainnya. Karena kejelekan yang tersebar telah masuk pada kita disebabkan perantara seorang wanita. Yang mana musuh-musuh Islam telah menyesatkannya, musuh-musuh Islam telah menjadikannya berangan-angan dan menipunya. Sampai-sampai terkadang dia menjadi seorang wanita yang merendahkan Islam dan berlepas diri dari ajaran Islam.

Al-Ajwibah Al Wadi'iyyah 'Alal Asilatin Nisaiyyah [Hal. 9]
 
Copyright © Berlomba Dalam Kebaikan Islam dan Sunnah - Designed by OddThemes